Cerita Kereta Cirebon Ceria

Indri Juwono • 2 Oktober 2017
0 komentar
0 likes
Tanggal artikel
Nama lokasi Cirebon

Untuk menjaga keguyuban terutama alumni perempuan Teknik yang jumlahnya dulu tak lebih dari dua puluh persen ini, maka dibawah arahan kak Arifia Indah Liani (S'90), tiga puluh orang alumni ini mengadakan jalan-jalan bernuansa budaya naik kereta ke Cirebon pada tanggal 1 Oktober 2017. Acara yang bertajuk Cerita Kereta Cirebon Ceria ini diawali dengan berkumpul di Stasiun Gambir dan bersama-sama naik kereta ke Cirebon. Beberapa alumni juga baru kenal di sini sehingga suasana keguyuban terasa. Apalagi angkatannya variatif, mulai dari awal 80-an hingga angkatan '99, namun tetap saja akrab. Namun ada ciri khas dari perjalanan ini, yaitu semua peserta mengenakan batik sebagai bawahan untuk menyambut hari batik tanggal 2 Oktober.

 

Perjalanan ke Cirebon ditempuh selama tiga jam sembari membagikan goodie bag dan perkenalan peserta. Kereta api sebagai moda transportasi paling laris ke Cirebon memang menjadi pilihan utama karena daya angkutnya yang banyak dan pelayanannya yang semakin baik. Selama di Cirebon kami menggunakan bis untuk berkeliling berbagai destinasi budaya.

Tujuan pertama adalah nasi jamblang Bu Nur, yang terkenal sebagai makanan khas Cirebon. Nasi yang disajikan dalam bungkusan daun jati karena memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama. Disajikan beserta aneka pilihan lauknya, seperti semur daging dan hati, bakwan jagung, tahu, tempe, pepes, sotong, serta yang terkenal adalah sambal goreng jamblang. Masakan ini dahulu berasal dari desa Jamblang di luar kota Cirebon. Menu ini membuat peserta bebas memilih lauk yang sesuai dengan seleranya.

Menempuh perjalanan selama 30 menit, bis tiba di Keraton Kasepuhan yang merupakan keraton tertua di Cirebon. Dengan diiringi pemandu, beliau menjelaskan bahwa daerah Cirebon berasal dari permukiman yang bernama Caruban yang berarti campuran. Memang lokasi Cirebon yang berada di perbatasan Jawa dan Sunda ini membuatnya mengalami dua kebudayaan. Keraton Kasepuhan berdiri pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana yang dahulu bernama Keraton Pakungwati. Di bagian depan dengan nuansa merah bata adalah area Siti Hinggil tempat raja duduk untuk mengamati kegiatan di alun-alun. Sementara di bagian dalam masuk bangunan induk keraton yang bernuansa putih dan dihiasi dengan aneka piring cantik dan tiang-tiang berwarna hijau. Beberapa jendela dengan ukiran unik membingkai dinding dengan indah. 

Perjalanan dilanjutkan ke sentra batik Trusmi di bagian selatan Cirebon. Aneka warna-warni kain menjadi pilihan dari rombongan untuk berbagai acara. Yang paling diburu adalah khas Cirebon yaitu batik motif mega mendung. Aneka batik di sini tersedia dalam pilihan batik tulis atau batik cap dengan harga yang bervariasi. Terdapat banyak toko di sepanjang kampung Trusmi ini yang menjual batik termasuk yang sudah jadi atau yang masih berupa kain. Proses membatiknya sendiri biasanya di tempat lain yang membutuhkan halaman yang agak luas.

Menjelang sore, kami makan siang empal gentong di tepi Jl Juanda sembari beristirahat usai berbelanja. Salah satu makanan khas Cirebon ini dengan memiliki citarasa yang khas seperti gulai dengan aroma wangi dari daun kucai yang ditabur. Selain itu, di sini juga bisa mencoba tahu gejrot sebagai camilan ringan.

Destinasi terakhir yang kami sambangi adalah Taman Sari Goa Sunyaragi yang dahulu digunakan sebagai tempat bertapa raja-raja. Taman ini dibangun dari batu-batu karang dengan rongga-rongga yang bisa dilalui, dan memiliki berbagai fungsi sesuai dengan hirarki fungsinya. Terdapat beberapa relief dari batu karang yang menyerupai bentuk tertentu. 

Tak terasa sudah sampai di penghujung hari yang membuat kami semua harus kembali ke Jakarta. Perjalanan sehari penuh dengan keakraban, keseruan dan gelak tawa pesertanya walaupun harus menemui beberapa kesulitan-kesulitan kecil. Namun walaupun sudah kembali, kekompakan dan semangat ini akan tetap dijaga dan disebarkan supaya jaya. 
Selamat Hari Batik! Mari mencintai budaya Indonesia sebagai bagian kebanggan terhadap negeri!

Artikel Lainnya